• Irvan Irawan Jie

Mastering - Worry


Entah mengapa tidur kemarin malam sampai pagi tidak bisa saya katakan sebagai sebuah tidur yang menyenangkan apalagi nyenyak. Saya masih merasa bahwa saya dapat mengulang episode tidur kemarin, saya mengingat berapa kali saya memutar posisi badan dan bagaimana jam demi jam rasanya berlalu. Walaupun sebenarnya di antara gerakkan tersebut saya mengalami tidur, tetapi rasanya tidurnya tidak nyenyak.


Pagi ini pun bangun dengan perasaan bahwa saya masih kurang tidur, padahal kemarin malam saya sudah berada di tempat tidur tujuh jam sebelum saya bangun. Secara kuantitas waktu tidur saya cukup, sedangkan secara kualitas sepertinya tidak terpenuhi. Pagi ini saya lalu menganalisa apa yang terjadi kemarin malam. Saya berusaha untuk mengingat apa yang terjadi di sela-sela saya tidak dapat tidur dengan mudah. Ternyata ada sebuah pola pikiran yang terus terulang.


Cara paling cepat untuk mengalami insomnia atau gangguan tidur adalah dengan memikirkan dampak atau penyebab dari sebuah kejadian. Apabila tidak menjaga pikiran, maka hal ini sangat mudah terjadi. Seperti turun ke dalam sebuah sarang kelinci yang berliku-liku dan bercabang-cabang di bawah tanah, sebuah dampak dapat terus dilanjutkan dengan dampak berikutnya. Pemikiran saya yang pertama adalah, kemarin saya minum kopi terlalu sore dan teh di malam hari, maka berangkat dari pemikiran itu, saya merasa bahwa saya tidak akan mudah tidur.


Karena merasa saya tidak mudah tidur, maka saya memikirkan bahwa saya tidak akan dapat efektif hari ini dalam bekerja. Saya lalu memikirkan bahwa kalau saya tidak mudah bekerja hari ini, maka saya perlu tidur. Pikiran saya lalu mengembara kepada kenapa saya tidak bisa tidur, terpikirkan kopi dan teh yang saya minum, penyesalan lalu datang setelahnya. Mengapa juga saya meminum kopi dan teh beberapa jam sebelum saya tidur. Di tahap ini lalu saya memulai skenario-skenario tambahan apabila saya meminumnya lebih siang atau tidak meminumnya sama sekali.


Kejadian-kejadian yang sudah terjadi tidak dapat diubah, dan dampak-dampak di masa depan tidak dapat ditentukan sekarang. Semuanya masih andai-andai belaka. Untuk mengatasi rasa khawatir dan menyesal, hiduplah di masa sekarang. Apa yang diperlukan untuk mengambil kendali pikiran dan kembali kepada saat ini? Karena apa pun yang dilakukan saat ini, itulah yang menentukan masa depan.


To your highest and masterful self,

Irvan Irawan Jie

www.irvanjie.com

Neuro-Semantics Trainer

Associate Certified Meta-Coach

3 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua