• Irvan Irawan Jie

Mastering - Thanksgiving


Setiap hari Kamis di minggu terakhir bulan November, ada sebuah tradisi di Amerika Serikat untuk merayakan hari Thanksgiving. Hari dimana setiap orang akan berkumpul dengan keluarga, makan bersama dan bersyukur atas apa yang sudah dialami selama setahun ini. Karena keadaan dunia saat ini, hari Thanksgiving pun menjadi sebuah hari yang penuh dengan tantangan dan protokol kesehatan. Bahkan ada yang merayakannya di ruang-ruang daring.


Sebuah tradisi yang dimulai untuk mensyukuri hasil panen yang didapatkan sepanjang tahun di masa lalu. Ada juga banyak versi sejarah tentang Thanksgiving yang beredar, tetapi terlepas dari sejarahnya esensi dari Thanksgiving adalah mensyukuri tahun yang sudah berlalu bersama dengan orang-orang yang di sayangi. Setiap keluarga akan berkumpul dan menikmati makan malam bersama. Keluarga yang tinggalnya jauh akan datang ke rumah orang tua untuk berkumpul bersama.


Saya masih ingat Thanksgiving yang pernah saya rayakan bersama dengan teman-teman ketika masih di Amerika. Saya tidak memiliki satu pun keluarga di sana saat Thanksgiving pertama saya. Sehingga saya merayakannya bersama-sama dengan teman-teman sesama mahasiswa Internasional di komunitas gereja. Sebelum makan, kami berterima kasih dan bersyukur atas apa saja yang sudah kami alami sampai hari itu. Setiap orang mendapatkan gilirannya masing-masing.


Kebahagiaan seseorang didasari oleh bagaimana seseorang dapat bersyukur dan menghargai apa pun yang terjadi di dalam hidupnya. Bersyukur sudah terbukti secara ilmiah dapat meningkatkan kebahagiaan seseorang dalam hidupnya. Bersyukur pun terkadang di representasikan oleh kata "Terima kasih" baik kepada diri sendiri, orang lain ataupun kepada Tuhan yang sudah memberikan hidup kepada kita.


"Terima kasih" kata-kata yang banyak saya katakan dalam keseharian saya. Apakah saya benar-benar mengerti maksud dari kata tersebut dan apakah saya mengatakananya dengan benar-benar tulus dari hati ketika mengatakannya? Ataukah kata-kata itu hanya sekedar basa-basi di dalam kesopanan dan kepatutan dalam bersosialisasi saja? Apakah saya benar-benar mensyukuri apa yang dialami saat ini? Tanpa rasa syukur yang tulus, maka kata "Terima kasih" tereduksi menjadi sekedar bunyi-bunyi saja.


To your higehst and masterful self,

Irvan Irawan Jie

www.irvanjie.com

Neuro-Semantics Trainer

Associate Certified Meta-Coach

6 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua