• Irvan Irawan Jie

Mastering - Seeing


"Daddy, will you play with me?" tanya anak saya yang kecil, dan tentu saja sebagai bucin dari anak perempuan umur enam tahun saya menjawab tentu saja. Dia mengajak saya bermain Barbienya, dia ingin membuat sebuah rumah boneka kecil bagi Barbienya. Karena menurut dia Barbie dengan rumah bonekanya perlu memiliki sebuah mainan rumah boneka bagi anak-anaknya. Tentu dengan akal bulus saya, saya mengalihkan perhatiannya dari membuat rumah boneka itu. Pertama akan membuat kamar berantakan dengan peralatan art and craft, kedua saya bukanlah seorang yang mahir membuat art and craft.


Jadilah saya ajak dia bermain membuat gambar di papan gambar magnet yang bisa dihapus. Papan gambar yang ada tuas yang bisa digeser ke kiri dan kanan untuk menghapus gambarnya. Saja ajak dia bermain untuk menggambar sebuah bentuk lalu lawannya bebas menggambar apa saja. Saya memulai dengan menggambar sebuah lingkaran dan dia menggambar matahari serta awannya. Giliran dia menggambar sebuah bentuk dan giliran saya menyelesaikan gambarnya.


Gambar yang dia berikan kepada saya adalah gambar setengah lingkaran kecil dengan diameter sepuluh centimeter di bawah kiri yang menempel pada batas papan gambarnya. Setelah dia memberikannya kepada saya, lalu dia bilang "this is something brown." Gambar yang dia harapkan adalah sebuah gambar yang ada dalam pikirannya, dan benda itu berwarna coklat. Lalu dengan pikiran iseng saya, saya berkomentar, "eeeee kamu jorok sekali." Bendanya setengah lingkaran, bulat dan berwarna coklat. Lalu saya gambarkan tiga asap yang keluar dan lalat yang mengitarinya.


Seketika itu juga kami tertawa terbahak-bahak sampai menangis. "Bukan itu maksudku daddy, itu mah daddy aja yang jorok pikirannya" celotehnya setelah menyeka air matanya. "Yang aku maksud itu pintu, kayak pintu kamar itu lohhhhh...." lanjutnya. Saya masih tetap tertawa karena melihat reaksinya. Saya menceritakan apa yang terjadi kepada kakaknya, dan kami bertiga tertawa terbahak-bahak sampai menangis kembali. Sampai-sampai ibunya kebingungan ketika masuk kamar dan melihat kami semua menangis tertawa.


Setelah selesai lalu dia mengambil papan tersebut dan menggambarkan apa yang ada dalam pikirannya. Kesempatan bagi saya untuk menjelaskan bahwa apa yang dia pikirkan, tidak bisa saya lihat. Saya hanya melihat apa yang digambarkan olehnya. Setiap dari kita melihat apa yang ingin kita lihat dan belum tentu orang lain melihat hal yang sama dengan kita.


To your highest and masterful self,

Irvan Irawan Jie

Neuro-Semantics Trainer

Associate Certified Meta-Coach

0 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua