• Irvan Irawan Jie

Mastering - Reflection


Tatapan matanya menatap saya mulai dari ujung kepala hingga ujung perut, sebatas yang terlihat saja. Tatapan mata yang penuh arti dan penghakiman. Suara yang terdengar adalah apa saja yang sudah dilakukannya sehingga sekarang perutnya sudah tidak rata seperti dulu? Apa yang dilakukannya sehingga sekarang wajahnya sudah tidak semulus dulu? Apa yang dilakukan dengan rambutnya sehingga tidak setebal dan sepanjang dulu?


Sudah banyak yang dilakukannya, tetapi mengapa sampai sekarang masih belum sukses seperti impiannya di masa lalu? Banyak hal di kerjakan tetapi mengapa belum membuahkan hasil? Mengapa dia membuang-buang waktu dengan kebiasaan-kebiasaan yang tidak berguna? Mengapa dia tidak berusaha ekstra keras dan memaksa dirinya untuk lebih baik lagi? Apa yang terjadi dengannya?


Sekelebat pemikiran yang terlintas berikutnya adalah, kenapa saya berbicara dan menghakimi diri sendiri? Yang salah lihat adalah cermin dan orang yang berada di cermin tersebut. Mengapa saya mencari-cari hal-hal yang tidak baik darinya dan menjatuhkannya? Mengapa saya tidak mencari hal-hal yang baik dari dirinya, memujinya dan bahkan menguatkannya untuk benar-benar menjadi siapa dirinya yang diinginkannya.


Lebih mudah bagi saya untuk mencari kesalahan, menghakimi, menyalahkan dan bahkan terpuruk dengan narasi diri sendiri karena tidak mencapai apa yang "seharusnya" saya capai. Padahal ketika orang-orang melihat diri yang di cermin itu, bisa jadi mereka melihat dan menilainya sebagai seseorang yang sudah lebih baik dan lebih berdaya daripada saya yang melihatnya.


Sudahkah menintai dan menghargai orang yang ada di dalam cermin tersebut? Bukankah dia juga layak untuk mendapatkan cinta dan kebahagiaan?


To your highest and masterful self,

Irvan Irawan Jie

www.irvanjie.com

Neuro-Semantics Trainer

Associate Certified Meta-Coach

5 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua