• Irvan Irawan Jie

Mastering - Projections


Mobil hitam tiba-tiba memotong jalan mobil saya dari sebelah kiri sebelum jembatan layang untuk masuk ke tol. Sepintas dia membuka jendelanya dan ternyata dia sedang memegang telepon genggamnya sambil menyetir. Saya melihatnya dengan jelas karena posisi mobilnya belum benar-benar masuk ke jalurnya ketika dia membuka jendelanya. Setelah dia berhasil masuk, lalu yang dia lakukan adalah membuang bungkus rokoknya keluar jendela lalu dengan santai mengeluarkan tangannya dengan sebatang rokok melalui jendelanya.


Mobil itu berjalan seperti itu sepanjang di atas jembatan layang untuk masuk tol. Bahkan sampai di tol pun, ketika saya melewati mobil itu dari sebelah kanan, dia masih asyik menyetir dengan tangan kiri dan rokok di tangan kanannya. Setelah beberapa menit perjalanan, saya berada di jalur tengah dan mobil yang saya tiba-tiba lagi memotong jalur saya dengan cepat dari sebelah kanan untuk keluar di salah satu pintu tol yang ada di sebelah kiri. Kebetulan saya juga mau keluar di pintu tol yang sama.


Ternyata ketika saya melihat kembali mobil yang memotong mobil saya, mobil yang saya lihat adalah mobil yang sama seperti sebelumnya. Mobil hitam dengan pengemudi yang sama pula. Saya pun berpikir ternyata ada orang yang menyetirnya lebih buruk daripada sopir metro mini yang haus setoran dan tidak memedulikan orang-orang lain di sekitarnya. Bagi saya perilaku sebelumnya dan caranya menyetir adalah sesuatu yang ugal-ugalan. Karena itu saya merasa ada rasa kesal mulai timbul di diri saya.


Sebelum rasa kesal itu benar-benar bertumbuh, saya menyadari satu hal. Rasa kesal ini sepertinya bukan karena cara pengemudi mobil itu berkendara, tetapi karena cara saya menilai cara pengemudi itu berkendara. Kekesalan saya adalah proyeksi saya terhadap apa yang sebenarnya bagi saya harus dilakukan dalam situasi mengemudi di jalan raya, spesifiknya jalan tol. Karena bagi saya cara mengemudi seperti itu membahayakan diri sendiri dan orang lain di sekitarnya. Bukan mobil hitam atau pengemudinya yang membuat saya kesal, tetapi saya sendiri yang memutuskan untuk merasa kesal.


Terkadang kita merasa bahwa orang-orang atau keadaan di sekitar kita menyebabkan kita untuk merasakan hal-hal tertentu yang menurut kita adalah sesuatu yang wajar. Ini ketika kita menjadi korban dan melepaskan tanggung jawab kita. Sudahkah kita bertanggung jawab atas diri kita sendiri untuk merasakan apa yang mau kita rasakan dalam keadaan apapun?


To your highest and masterful self,

Irvan Irawan Jie

www.irvanjie.com

Neuro-Semantics Trainer

Associate Certified Meta-Coach

4 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua