• Irvan Irawan Jie

Mastering - Intermission


Istirahat, sebuah kata yang terkadang bagi sebagian orang tabu untuk dikatakan. Kata-kata yang sering di dengar oleh motivator-motivator adalah sekarang saatnya bekerja keras, istirahat tidak perlu lama-lama. Bahkan tidur cukup kurang dari enam jam, semakin banyak waktu terjaga semakin banyak waktu bekerja. Saat muda saatnya kerja keras, nanti setelah tua dan sukses baru bisa istirahat. Bahkan yang lebih ekstrem lagi adalah, kita bisa istirahat nanti kalau sudah meninggal.


Kultur bekerja keras bukanlah sesuatu yang buruk, ada masa-masa dimana kita perlu mengorbankan istirahat untuk mencapai tujuan yang memang penting untuk dilakukan. Akan berbeda apabila tidak ada istirahatnya sama sekali. Di masa-masa seperti sekarang, dimana ada orang-orang yang bekerja dari rumah, kehidupan pekerjaan dan rumah terkadang menjadi tipis bedanya. Keberuntungan untuk bekerja dari rumah bisa menjadi sebuah kerugian, dimana tidak ada lagi jam kerja dan tanpa kendali diri yang baik, maka hidup di rumah serasa hidup di kantor.


Setiap dari kita diciptakan memang untuk bekerja dan menghasilkan sesuatu. Tanpa hasil yang kita ciptakan, maka akan ada rasa hampa. Kunci yang membedakannya adalah tahu kapan bekerja dan kapan beristirahat. Menghilangkan tabu atau makna yang tidak memberdayakan tentang istirahat apabila memang berada dalam konteks dan waktu yang tepat. Sebaliknya menyadari bahwa terlalu memforsir pekerjaan setiap saat terbukti memberikan dampak negatif dalam produktivitas. Bekerja tanpa istirahat akan memberikan hasil yang kurang optimal.


Dalam beberapa penelitian ditemukan bahwa bekerja keras selama empat puluh lima menit, perlu dilanjutkan dengan istirahat selama sepuluh sampai lima belas menit. Menciptakan interval kerja yang penuh fokus dan istirahat untuk mengembalikan fokus tersebut akan membantu seseorang mencapai hasil produktif yang lebih optimal dan efektif daripada bekerja terus menerus selama beberapa jam. Sedangkan setiap orang akan memiliki jam biologis tubuh yang berbeda-beda. Tugas setiap dari kita adalah menemukan jam paling optimal bagi kita untuk bekerja. Ada yang suka bekerja pagi-pagi sekali, siang, sore ataupun larut malam.


Berikutnya adalah tidur yang cukup, setiap orang membutuhkan tidur yang cukup. Tentunya orang-orang akan berbeda-beda jam tidur yang dibutuhkan. Saran yang sering diutarakan adalah tidur selama enam sampai delapan jam sehari. Dengan tidur yang cukup tubuh akan mendapatkan waktu untuk meregenerasi sel-sel yang rusak dan memperbaiki dirinya sendiri. Ikuti saran bang Rhoma, begadang jangan begadang kalau tidak ada artinya, kecuali memang ada keperluan yang sangat mendesak.


Sudahkah memperhatikan istirahat untuk memperbaiki kinerja diri sendiri?


To your highest and masterful self,

Irvan Irawan Jie

Neuro-Semantics Trainer

Associate Certified Meta-Coach

7 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua