• Irvan Irawan Jie

Mastering - Ignoring


Aku tidak peduli, aku mengantuk, aku mau tidur. Jangan ganggu aku, tidurku lebih penting, dimana aku mau tidur pun bukan urusanmu. Kamu mau menganggukku pun tidak akan kupedulikan. Kamu bilang sekarang bukan jamnya tidur, tetapi ini hidupku dan aku mau tidur sekarang titik. Tidak peduli siapa kamu, apapun kamu, di manapun kamu dan kapan pun kamu bicara kepadaku, aku tetap akan tidur.


Bisa saja ini adalah perkataan kucing yang saya temui di rumah teman. Tanpa memedulikan orang-orang di sekitarnya dia tidur di manapun dia mau. Kalaupun dia tidak tidur dia akan datang kepada orang-orang yang mau mengelusnya, ini pun dilakukan tanpa bertanya terlebih dahulu. Kucing hitam itu akan langsung menghampiri, merebahkan dirinya di kaki seseorang dan ketika seseorang itu mengelusnya dia akan tidur dengan santainya.


Ketika mau dibangunkan supaya dia pindah tempat dan memberikan tempat duduk bagi orang yang mau duduk di bangku itu pun, dia tidak akan memedulikannya. Kucing itu hanya bangun sebentar, menatap orang yang membangunkannya, menguap dan kembali tidur dengan santainya. Seandainya saja hidup kita bisa sesantai kucing itu ketika menghadapi sebuah keadaan yang sedang dialami. Tentu hidup ini akan menjadi sangat menyenangkan.


Sayangnya kadang kala, saya terlalu sering memedulikan apa yang orang lain katakan kepada saya, lakukan kepada saya dan tunjukkan pada saya. Saya memasukkannya ke dalam diri saya seolah-olah apa yang orang lain lakukan kepada saya itu adalah hanya spesifik tentang saya. Padahal apa yang dilakukan oleh orang lain kepada saya didasari oleh niat dari dalam dirinya sendiri dan bukanlah tentang saya. Seolah-olah apa yang orang lain katakan dan lakukan kepada saya mencerminkan siapa saya, padahal itu mencerminkan dia.


Bukan berarti juga saya perlu seperti kucing yang lalu cuek dan melanjutkan tidur, tetapi sebagai manusia saya perlu mulai memilah, mana dari perkataan dan perilaku orang kepada saya yang memang berguna sebagai cerminan yang akurat akan apa yang saya katakan atau lakukan. Dengan begitu saya memegang kendali atas hidup saya. Sudahkah memegang kembali hidupmu?


To your highest and masterful self,

Irvan Irawan Jie

Neuro-Semantics Trainer

Associate Certified Meta-Coach

11 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua