• Irvan Irawan Jie

Mastering - Desire


Saya menyadari beberapa hari belakangan saya sedang melihat-lihat situs penjualan online. Barang yang saya lihat, itu-itu saja, walaupun ada keinginan untuk membelinya tetapi saya sadar belum saatnya bagi saya untuk membeli hal tersebut. Ada lebih banyak kepentingan lain yang perlu diperhatikan dan membutuhkan sumber daya finansial saya. Walau pemikiran sadar mengatakan hal tersebut, tetapi pemikiran emosional terus mendorong saya untuk memilikinya.


Hasrat untuk memiliki sesuatu yang saya dambakan datangnya dari pemikiran saya sendiri. Bahkan sepertinya bukan tentang barangnya, tetapi harapan dan impian semu saya tentang bagaimana saya akan menggunakan barang tersebut. Impian yang tergambar, terdengar dan terasa sempurna. Pada kenyataannya, belum tentu juga impian-impian tersebut akan menjadi kenyataan karena kesempurnaannya dalam pikiran saya.


Sungguh saya tergoda oleh keinginan saya sendiri, hasrat untuk memiliki sebuah benda yang bisa saja hanya dinikmati sesaat. Walaupun tidak juga tertutup kemungkinan bahwa benda itu benar-benar saya butuhkan. Keperluannya memang ada, tetapi saya sadar saya perlu memikirkan dengan benar secara rasional dan bukan dengan emosional. Karena ketika emosi bermain, pemikiran rasional cenderung tunduk apabila tidak diberikan kuasa atas emosi diri sendiri.


Menyukai, berhasrat dan ingin memiliki sesuatu karena pemikiran tentang bagaimana dunia ideal di masa depan ketika saya menggunakan benda yang belum saya miliki menjadi penderitaan tersendiri. Begitu indahnya pikiran saya sehingga bahkan seluruh relung hati saya dipenuhi dengan kesenangan yang saya belum miliki. Keinginan atas kesenangan yang belum dimiliki itu yang diperjuangkan untuk menghindari penderitaan masa sekarang. Penderitaan yang belum tentu juga terobati karena dunia ideal masa depan hanya ada di dalam pikiran saya.


Apabila penderitaan ini saya yang ciptakan dalam pikiran saya sendiri, mengapa juga saya terus memilih untuk berada di dalam penderitaan ini? Kendalikan dirimu wahai jiwaku dan kembali ke masa sekarang untuk memikirkan benar-benar apakah hasrat itu adalah sesuatu yang akan menciptakan kebaikan di masa depan.


To your masterful self,

Irvan Irawan Jie

www.irvanjie.com

Neuro-Semantics Trainer

Associate Certified Meta-Coach

7 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua