• Irvan Irawan Jie

Mastering - Cookies


Desember adalah bulan dimana biasanya istri saya menjual kue-kue natal kepada teman-teman yang merayakan. Kue-kue natal itu dia buat sendiri dari awal, mulai dari memecahkan telur, mencampur terigu, menambahkan vanila, mentega dan mengocoknya semua sampai menjadi sebuah adonan. Setelah itu didiamkan sehari, dibentuk satu per satu, dipanggang seloyang demi seloyang dan akhirnya dihias satu per satu. Kue yang sudah dihias lalu di masukkan lagi ke dalam oven untuk dikeringkan gulanya, didinginkan, dimasukkan ke plastik, disegel dengan pemanas dan terakhir diikat dengan pita.


Sebuah proses dimana untuk membuat 130 kue kering saja memakan waktu seharian. Walaupun memakan waktu seharian, istri saya sepertinya menikmatinya. Istri melakukannya bersama dengan anak-anak. Yang kecil membantu mengaduk dan menghias, yang besar juga membantu menghias, sedangkan saya tidak membantu apa-apa karena memang kesibukan yang lain. Sampai malam ketika saya selesai mengajar jam setengah sembilan malam, mereka masih sibuk menghias kue-kue kering.


Kue-kue ini nantinya akan dijual kepada teman-teman yang sudah memesan untuk diberikan kepada teman-teman mereka. Sehingga istri saya memberikan perhatian ekstra kepada kue-kue kering yang sedang dibuat. Dia memastikan bahwa rasanya enak, matangnya pas, dan walaupun anak-anak yang menghias tetapi tidak terlalu berantakkan. Satu per satu juga di bungkus dengan penuh perhatian dan perlahan karena bisa saja hancur ketika dimasukkan ke plastiknya apabila tidak hati-hati.


Ketika melakukan sesuatu yang berarti untuk kita, pasti kita akan melakukannya dengan segenap hati kita. Perhatian dan fokus pasti akan mengalir begitu saja. Berbeda ketika kita melakukan hal-hal yang memang tidak kita niatkan, asal-asalan, sekedar jadi dan secepat mungkin. Istri saya menyadari bahwa melakukan sesuatu bukan hanya karena berjualan dan uang yang akan didapatkan, tetapi juga kebahagiaan orang-orang yang menerima dan memberinya nanti. Istri saya menempatkan dirinya sebagai saluran kebahagiaan bagi orang-orang yang membeli kue keringnya.


Niat menjadi saluran kebahagiaan inilah yang membantu istri saya walaupun capek seharian tetap bisa dengan senang hati membuat kue-kue keringnya. Tambahannya lagi dia juga mengajarkan kepada anak-anak bagaimana bekerja dengan hati dan melakukan sesuatu dengan niat yang baik. Apabila saat ini kita sedang mengerjakan sesuatu yang rasanya tidak menyenangkan, periksa kembali niat awal kita melakukannya. Jangan-jangan kita melupakan niat awal kita dan akhirnya menghalangi kita untuk menjadi saluran kebahagiaan bagi orang-orang yang terdampak melalui pekerjaan kita.


To your highest and happiest self,

Irvan Irawan Jie

www.irvanjie.com

Neuro-Semantics Trainer

Associate Certified Meta-Coach

6 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua