• Irvan Irawan Jie

Mastering - Artificial


"Keindahan semu." Kata-kata seorang teman kemarin malam ketika kami sedang makan malam berama. Kata-kata ini keluar ketika kami merasa terhalang oleh sebuah pohon besar yang ada di tengah-tengah meja. Pohon ini menghalangi kami untuk bisa saling melihat satu sama lain dengan orang yang ada di seberang meja. Dari awal kami sudah bercanda untuk memotongnya dan biarkan salah seorang dari kami membayar kerugiannya.


Karena pohonnya kelihatan begitu nyata, tidak ada satu pun dari kami yang menyadari bahwa pohon ini adalah pohon palsu yang terbuat dari plastik. Kami mengira, pohon tersebut adalah pohon asli dan sungguh sayang kalau sampai dipotong, karena daunnya sangat besar dan indah. Setelah berdebat secara on dan off pada saat makan malam. Sampai pada akhirnya ada yang berani memegang dan memperhatikannya dengan seksama.


Seandainya saja kami tahu itu adalah pohon palsu dari awal, maka kami mungkin sudah mulai menundukkan pohon tersebut pada saat kami sedang bicara. Kami juga tidak akan segan-segan mengubah posisinya. Sayangnya kami baru sadar ketika menjelang akhir pertemuan kami. Sesuatu yang indah di luar belum tentu memberikan manfaat ataupun keindahan yang asli.


Saya juga kadang masih sadar bahwa saya menggunakan topeng ketika bertemu dengan orang lain. Khususnya orang-orang yang baru saya kenal. Topeng yang digunakan untuk menutupi diri saya dan memperlihatkan keindahan semu. Hanya ketika saya merasa nyaman dengan orang tersebut perlahan demi perlahan topeng itu saya lepaskan. Biasanya walaupun topeng itu indah, tetapi keindahan yang ada di dalam diri saya yang dapat mempertahankan sebuah hubungan.


Keindahan apa yang kita tampilkan di dalam keseharian kita? Apakah keindahan semu ataukah keindahan yang memang ada di dalam diri kita yang sebenarnya?


To your highest and masterful self,

Irvan Irawan Jie

www.irvanjie.com

Neuro-Semantics Trainer

Associate Certified Meta-Coach

4 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua